Mengaharukan,
Kisah Seorang Akhwat Melamar Ikhwan
Tak
sengaja, kami menemukan Kisah Pernikahan Islami yang Mengharukan Seorang Akhwat
Melamar Ikhwan di newsfeed facebook. Ya ini kisah pernikahan yang bisa jadi
menginspirasi, alih-alih seorang akhwat menunggu mendapatkan suami, kalau
sekiranya melihat ikhwan yang memang baik, segera lamar dulu itu juga boleh.
Menurut
kami, kisah pernikahan islami romantis ini juga sekaligus memberikan motivasi
mengenai bagaimana suami istri musti menjadi tim yang baik dalam membangun
kemandirian dalam rumah tangganya. Bagaimana akhlaq baik dari seorang istri
yang sampai kehabisan uang saja sungkan meminta uang kepada suami sebab
khawatir bisa melukai hati suaminya.
Berikut Kisah Selengkapnya....
Dulu ana datang ke suami ana, justru ana yang menawarkan diri ke suami.
”Akhi,
maukah menikah dengan ana?”, tawarku padanya.
Waktu
itu dia masih kuliah smester 8. Dia cuma bengooonggg seribu bahasa, serasa
melayang di atas awan, seolah waktu terhenti.
Beberapa saat setelah setengah kesadarannya kembali dan setengahnya lagi entah
kemana, dia berucap,
”Afwan
ukh… anti pengen mahar apa dari ana?”
“Cukup
antum bersedia menikah denganku saja itu sudah lebih dari cukup”
Bak
orang awam mendaki gunung yang tinggi lagi extreme, ehhh… dianya langsung
lemesss. kayak pingsan. Besoknya datang nazhar, terus khitbah. Lalu untuk
ngumpulin uang buat nikah, dia jual sepeda dan jual komputernya… untuk mahar
dan biaya nikah.
Di awal pernikahan dia gak punya pendapatan apa-apa. Kita usaha bareng dan ana
gak pernah nanya seberapa pendapatnya ataupun dia kerja apa. Selama ana nikah
dengannya ana belum pernah minta uang. Hingga kinipun kalo gak dikasih ya diam.
Saat beras habis, ana gak masak. Saat dia nanya, “koq gak masak beras dek?”
“Habis
mas”, jawabku
“Koq
gak minta uang?”, lanjutnya.
Ana gak jawab, takut
suami gak punya kalo ana minta. Jadi ana takut menyinggung perasaan kekasih
hatiku... weee.
Kalo kita menghormati suami, maka suami akan menyayangi kita lebih dari rasa
sayang kita ke dia. Bahkan usaha sekarang dah maju pesat… alhamdulillah.
Ibarat kata uang 50jt dah hal biasa. Lalu suatu hari ana tawarkan dia nikah
lagi namun dia gak mau. Katanya ana itu tidak ada duanya… hehehe ngalem
dewek.
Rezeki bisa dicari bersama. Bagi ana usaha yang dicari bersama suami
susah-payah bersama, setelah sukses… maka banyak kenangan manis yang tak
terlupa. Kita jadi saling memahami dan mengerti karakter masing-masing karena
kita sering berinteraksi.
“Suamiku adalah temen curhatku…
suamiku adalah patner bisnisku…
suamiku adalah ustadz tahsinku…
suamiku adalah temen seperjuanganku…
suamiku adalah sahabatku…
suamiku adalah temen mainku…
suamiku adalah temen berantemku…”,
Itulah kiranya yang ana rasakan darinya, setelah 12 tahun menikah dan insya
Alloh dikaruniai anak 7 semoga semakin menambah keberkahan dalam rumahh tangga
ana…
Dan bukan hal yang hina bagi ana kalo ada seorang akhawat datang menawarkan
diri ke ikhwan. Ana dulu hanya melihat dari bacaan al-Qur’annya yang bagus dan
dia sangat menjaga sholatnya itu aja gak lebih. Jadi para akhawat yang belum
menikah.
Apa yg menghalangi anda untuk menikah muda?
Apa karena melihat pendapatan materi dari ikhwan yang
menghalaginya?
Sumber : LDK AL-IHSAN [muslimah.info]